TINJAUAN LITERATUR : PENDIDIKAN POSITIF - EKSPLORASI KERANGKA KESEJAHTERAAN SISWA DI INDONESIA

Pendidikan Positif : Eksplorasi Kerangka Kesejahteraan Siswa di Indonesia


Nama     : Tia Ekawahyu Agustin

NIM       : 24111754001

Prodi      : S1 Pendidikan Matematika

Fakultas : Kampus 5 UNESA



        Pendidikan positif adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan intervensi dan program yang divalidasi secara empiris dari psikologi positif yang berdampak pada kesejahteraan siswa. Meskipun itu istilah baru dalam dunia pendidikan, positif pendidikan berasal dari pandangan Aristoteles bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk sejahtera. Selain itu, White dan Murray,  juga menjelaskan bahwa pendidikan positif juga merupakan implementasi empiris dari Seligman teori yaitu Model PERMA. Pendidikan positif itu penting untuk diterapkan di sekolah, beberapa ahli sebelumnya telah berpendapat bahwa pendidikan positif adalah isu yang relevan dalam perkembangan anak di sekolah. Hal ini disebabkan oleh adanya tantangan di bidang pendidikan yang semakin kompleks seperti rendahnya jumlah siswa prestasi akademik, buruknya tingkat kemampuan siswa, dan tingkat kecemasan siswa yang tinggi. Data dari Pusat Pendidikan Nasional Statistik, menunjukkan bahwa anak-anak berusia 12 hingga 18 tahun sering mengalami bullying di sekolah. 

        Hasil penelitian membuktikan bahwa siswa yang mempunyai hubungan baik dengan orang tua dan guru, mereka akan  mengalami perubahan sikap yang lebih baik. Selain itu, sekolah yang memasukkan pendidikan positif sebagai kurikulum menunjukkan hasil yang lebih baik hasilnya dibandingkan ketika mereka tidak menerapkannya pendidikan positif. Tahap pertama melaksanakan pendidikan positif adalah dengan mengukur kesejahteraan mahasiswa dan akademisi masyarakat dan mengembangkannya sesuai dengan konteks dan budaya sekolah. Implementasi  pendidikan positif di sekolah harus mempunyai rencana dan menjadi bagian kurikulum sekolah, setidaknya dalam lima  tahun berikutnya yang akan membantu menetapkan tujuan, sasaran, dan strategi yang jelas. Oleh karena itu, ketersediaan instrumen pengukuran untuk tujuan evaluasi itu penting. Pada tahun 2011, Seligman memperkenalkan Model PERMA (Positive Emotions, Engagement, Relationships, Meaning, and Accomplishment), dimana kesejahteraan didefinisikan dalam lima dimensi yaitu emosi positif, keterlibatan, hubungan positif, makna, dan pencapaian. Siswa yang memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi akan mampu terlibat aktif dalam pembelajaran dan memiliki pengalaman belajar yang bermakna, yaitu penting dalam mensukseskan implementasi program perbaikan di sekolah.

        Hasil PISA tahun 2018 menunjukkan bahwa skor membaca Indonesia berada pada peringkat 72 dari 77 negara, nilai matematika berada pada peringkat 72 dari 78 negara, dan skor sains berada di peringkat 70 dari 78 negara, menunjukkan bahwa ada masalah di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Indonesia selama 20 tahun terakhir selalu menduduki peringkat teratas lima negara dengan pencapaian terendah di PISA. Menanggapi hasil tersebut, pihak Indonesia pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan budaya memperkenalkan program baru yang disebut Merdeka Belajar, salah satunya program yang bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bahagia dan mendukung tercapainya hasil belajar siswa.

        Studi eksplorasi yang bertujuan menjelaskan apakah kesejahteraan pada siswa itu diwujudkan sesuai dengan model teoritis. Selain itu, Analisis konfirmatori digunakan untuk mengkonfirmasi apakah teori permintaan untuk modelnya kuat dalam hal penduduk Indonesia. Menariknya, dalam penelitian ini ditemukan bahwa dimensi kesejahteraan siswa di Indonesia terbentuk dari delapan dimensi: pencarian, hubungan positif, kesenangan, kehadiran, gairah, prestasi, kegembiraan, dan keterlibatan.  Emosi tidak dapat berdiri sendiri dari orang lain, misalnya emosi positif dan emosi negatif. Tapi yang emosional dimensi merupakan dimensi yang saling berkaitan dalam cara yang sangat sistematis. Kebahagiaan adalah emosi yang terbentuk dari kesenangan dan banyak gairah, sebaliknya kepuasan adalah terbentuk dari rasa senang dan banyak rasa kantuk. Makna hidup dirasakan ketika seseorang telah menjalaninya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Siswa di Indonesia membedakan tujuan hidup menjadi dua yang berbeda dimensi yaitu kehadiran dan pencarian. Berharap dapat memberikan definisi operasional dan instrumen kesejahteraan untuk penerapan pendidikan positif di Indonesia atau biasa disebut Merdeka Belajar. Semoga sistem pendidikan indonesia bisa ditingkatkan agar prestasi siswa dapat tercapai lebih baik.

        Sekolah adalah tempat sebagian besar anak-anak dan remaja menghabiskan waktunya untuk belajar. Dengan demikian, sekolah memainkan peran penting dalam membangun dan menjaga nilai-nilai budaya positif dan mempromosikan kesejahteraan bagi generasi muda. Terbuka peluang untuk meningkatkan keberhasilan yang positif program pendidikan di Indonesia khususnya Program Merdeka Belajar. Di sisi lain, ditemukan kesejahteraan siswa Indonesia mempunyai delapan dimensi yang berbeda-beda dari konsep kesejahteraan sebelumnya. Membuktikan pentingnya mengeksplorasi kerangka kesejahteraan di masing-masing negara negara untuk menerapkan pendidikan positif. (oleh Tia Ekawahyu Agustin).

Komentar